21 September 2014

Jalan Kereta Api Negara Hindia Belanda 1875 - 6 April 1925

Sejarah per Kereta Apian di sumatera dimulai sejak jaman kolonial Belanda, dimana ide para insinyur dari Nederlandsch-Indische Staatsspoorwegen telah merencanakan Back Bone per kereta apian di Sumatera.
Apa yang di gaung gaungkan dewasa ini tentang the railways Sumatera yang membutuhkan biaya sangat tinggi, sudah di rencanakan oleh Belanda hampir 100 tahun yang lalu.
Dari peta dibawah ini tampak bahwa jalur Kereta api yang di rencanakan oleh kolonial Belanda mulai dari ujung selatan Sumatra pelabuhan Panjang terus sampai ke ujung utara Sumatera berakhir di Kuta raja Aceh, dimana sumatera terbagi atas 3 bahagian yakni :
1.   Bagian selatan dengan jalur jalur
a.   Yang sudah beroperasi ( dengan rel 1,057 m )
                                         i.    Panjang-muara enim – Palembang
                                       ii.    Muara enim – Lahat
b.   Kemudian rencana
                                         i.    Palembang – Kayu agung
                                       ii.    Lahat – Tebing tinggi –bengkulu
                                      iii.    Lahat–muarorupit-Surolangun-Rantauikir-muaro sijunjung
                                      iv.    Rantauikir – Sungai penuh
2.   Bagian tengah dengan jalur jalur
a.   Yang sudah operasi ( dengan rel 1,057 m )
                                         i.    Muaro sijunjung – Padangpanjang-padang-telukbayur
                                       ii.    Padang panjang bukittinggi-payakumbuh-limbanang
                                      iii.    Muarosijunjung – sawah lunto
                                      iv.    Padang – pariaman - sungailimau
b.   Yang telah di rencanakan
                                                              i.      Muarosijunjung-tembilahan, dengan cabang cabang ke muarolembu dan airmolek
                                                            ii.      Sungailimau-Rao
                                                          iii.      Rao-padangsidempuan-Sibolga
                                                          iv.      Rao-Pasir pangiraian-Kotapinang-Tanjungbalai
3.      Bagian Utara dengan jalur jalur
a.      Yang sudah operasi ( dengan rel 1,057 m )
                                                              i.      Tanjungbalai-pematang siantar ( partikelir )
                                                            ii.      Tanjungbalai-Medan-Pangkalan susu ( partikelir )
                                                          iii.      Medan-belawan ( partikelir )
                                                          iv.      Pangkalab susu-Kotaraja ( rel khusus 0,75m)
Dari Jaringan Kereta api ternyata bahwa jaringan di ranah minang menjadi kawasan yang strategis, terlihat dengan dibangun cepatnya jalur Ombilin - Emaheven ( Taluakbayua ) hanya berselang 12 tahun setelah jalur pertama di jawa Surabaya – Malang, mungkin untuk pengangkutan emas hitam batubara. Jadi jalur Ombilin – Emaheven adalah jalur keretaapi yang tertua di luar jawa dibangun pada tahun 1887. sumber :http://minanglamo.blogspot.com/2012/01/jaringan-jalan-kereta-api-1925.html


19 September 2014

Baso dari maso ka maso

Masa Kolonial dan Awal Kemerdekaan

Pada masa kolonial Belanda Onderdistrick Baso merupakan bagian dari Districk Tilatang Kamang IV Angkat Canduang dimana Districk ini terdiri atas Onderdistrick Tilatang Kamang, Onderdistrick Ampek Angkek Canduang dan Onderdistrick Baso yang diperintah oleh seorang Demang yang berkedudukan di Biaro.

Pada zaman penjajahan Jepang, sekitar tahun 1943 bentuk Pemerintahan Ampek Angkek Canduang mengalamai perubahan dan diganti menjadi dua bagian, dimana Nagari Panampuang, Lambah, Balai Gurah, Lasi dan Bukik Batabuah serta Canduang Koto Laweh bergabung dengan 5 nagari di Wilayah Baso yaitu Bungo Koto Tuo, Koto Tinggi, Padang Tarok, Simarasok dan Tabek Panjang yang diperintah oleh Demang Muda yang berkedudukan di Baso. Sedangkan nagari-nagari lainnya di Pemerintahan Ampek Angkek Canduang bergabung dengan Daerah Kota Bukittinggi yang diberi nama Bukittinggi Shi III.
Pada bulan November 1947 Nagari Biaro Gadang, Ampang Gadang dan Batu Taba dipisahkan dari Kota Bukittinggi, kemudian bergabung dengan Kabupaten Agam yang menjadi bagian Pemerintahan Wilayah Baso.
Pada Agresi Militer II dimulai bulan Februari 1949, Pemerintahan Wilayah Baso dipimpin oleh Camat Militer Baso yang berkedudukan di Baso meliputi 5 Nagari di Wilayah Baso ditambah Nagari di sebelah Utara rel Kereta Api Pemerintahan Wilayah Ampek Angkek Canduang.
Selanjutnya dengan Ketetapan Bupati/Ketua Dewan Pemerintah Daerah Sementara Kabupaten Agam melalui Surat Keputusan Nomor 038/2-2/1950 tanggal 22 Juni 1950, Nagari di sebelah Utara rel Kereta Api Pemerintahan Wilayah Ampek Angkek Canduang diserahkan kepada Pemerintahan Ampek Angkek Canduang dan 5 Nagari di Pemerintahan Wilayah Baso yang Pemerintahannya dipimpinan oleh seorang Assisten Wedana yang berkedudukan di Baso.
Setelah Kemerdekaan.
Semenjak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 05 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, maka pada tahun 1975 istilah Assisten Wedana diganti dengan Camat selaku Kepala Wilayah. Kantor Camat baso sendiri berada di Ampuah, yang secara administratif merupakan bagian dari Jorong Baso.

facebook

https://www.facebook.com/b.katiksulaiman